KURSUS IELTS & TOEFL ONLINE

NAPAK TILAS

Dulu itu … waktu jaman masih kuliah di Sastra Inggris Unpad 2001 .. aku sama sekali ga ada niatan mau jadi guru. Pernah sekali waktu di KKN disuruh ngajar? Itu hal paling kacau yang pernah kulakuin di KKN. Masa anak basket disuruh ngajar? Please…

KKN once upon a crime …

Aslinya aku kuliah mestinya lulus 2005. Tapi aku nambah setahun karena urusan ngebandku waktu itu belum kelar, dapat tawaran dari nagaswara tapi mesti ada duit sekian puluh juta dulu …

formasi sebelumnya dengan Eri sebagai drummer

Tapi apalah daya … kami nggak punya channel / koneksi yang tajir yang bisa ngedatengin duit sejumlah yang diperlukan.

formasi 2007 dengan Tongam sebagai Drummer

Ya sudahlah lulus saja kalau begitu. Kuliah lama lama ngapain juga. Aku lulus Desember 2006 tapi baru diwisuda Januari 2007. Kesannya kuliah 6 tahun, padahal cuma 5 tahun. Damn!

2007. Karena  males ngelamar yang aneh aneh, kerjaan pertama adalah di LPIA Gatot Subroto Bandung. Kerja disini putus nyambung, gonta ganti manajer, karena ada kasus manajernya fraud gitu atau semacamnya.

2008, manajer baru dateng, gw dipanggil lagi buat kerja disitu. Manajer barunya ternyata sama kacaunya juga. Akhirnya Quitlah daku dari LPIA dan memutuskan untuk ngajar privat aja di Bandung. Kebetulan waktu itu lagi ada kerjaan privatan satu dua biji.

LPIA 2008

Senang juga sih kerja di lembaga seperti LPIA. Niatnya aku dulu pengen bikin jadi lembaga besar, tapi orang orangnya kurang mendukung karena sebagian besar orientasi dapat profit dan engga terlalu perhatian ke sisi pelajaran. Mungkin kelemahan kursus Franchise ya beginilah.

Di 2009 aku dapet tawaran kerja di Manado oleh Sari Supriatni, dulu aku di S1 dia di D3. Kenalan karena dulu dia suka nongkrong di Perpus Inggris di kampus. Dia udah duluan di Manado. Aku bayangin ngerantau ke Manado kayanya asik aja. Dan jadilah aku menjalani kontrak 1 tahunku di Manado. Murid di EFN Manado banyaknya ampun ampunan. Aku inget, aku aja handle 110 siswa dibagi dalam 7 kelas. Jadi kurang lebih ada 300 lebih siswa dihandle oleh Tiga Guru! Oh wow!

Dibandingin LPIA yang aku handle, yang sekelas isinya 4 – 5 murid, jelas ini lebih seru dan mengasyikkan. Kenapa? Karena di EF aku mesti ngajar dari yang paling bocah Small Stars, lalu anak SD High Flyers, SMP Trail Blazers, dan SMA Dewasa, di Real English. Beda usia beda approach, dan kudu full English! Haha, biasanya abis energinya buat maen games sama anak anak bocah. Sampe sekarang aku tetap salut sama semua penghuni EFN Manado, dulu ada Mam Chressy, Mam Mawar, dan Mam Mastin sebagai Course Consultant. Sir Iwan Soehariyono dan Mam Sari serta aku sebagai Teachers. Dan kita tinggal satu mess … oh serunya! Oh Manado, I love you full.

Mam Sari, Mastin, Mawar, Chressy, Aku dan Sir Iwan

Setelah satu tahun berlalu, aku putuskan untuk kembali ke Jakarta, karena aku dapat tawaran mengajar di Cilegon, persisnya di PT LATINUSA (Pelat Timah Nusantara). Tadinya aku kurang tahu tentang perusahaan ini, ternyata anak perusahaan Krakatau Steel di bidang Timah. Aku pun mengajar di PT LATINUSA untuk kelas Cilegon dan Wisma Baja. Yang diajar adalah Business English untuk 52 staff direksi dan manajemen. Nah, ngajar di Latinusa ini terhitung berat karena yang diajar orang elite semua. Alhamdulillah aku punya banyak kenalan karena beliau beliau ini semua orang yang ramah tamah. Sekarang mungkin aku ngga hapal semua, tapi aku ingat sekali dengan Pak Arsyad, Pak Djoko, Pak Zulkarnaen dan Pak Agus Lubis serta ibu Yuyun beberapa di antaranya yang sering kulihat post di FB.

Saat aku mengajar di LATINUSA inilah, persisnya di Juni 2010 aku mendapat kabar bahwa ayahandaku meninggal dunia. Dan aku pun mendapat kabar bahwa ada urusan mengajar ayahanda yang belum selesai di UMP dan Edlink Connex Palembang. Aku memutuskan untuk bersiap bekerja di Palembang menyelesaikan urusan almarhum ayahandaku. Tetapi UMP tidak menghendaki aku menggantikan peran ayahku, dan jadilah aku bekerja di Edlink Connex Palembang. Persisnya setelah pernikahanku di Januari 2011, aku berpisah dengan istriku yang saat itu masih bekerja di Jakarta.

Karin, Evan, Cia

Di Edlink Connex Palembang, aku punya sahabat baik bernama Lediana Afriyanti yang merupakan konsultan pendidikan dari Edlink Connex Palembang, sedangkan aku bertugas mengajar murid murid yang bersiap studi ke luar negeri via Edlink. Ada juga mbak Endang Fitriani sesama rekan pengajar di Edlink. Lalu ada Yayu yang merupakan resepsionis di Edlink. Murid muridku tak terhitung jumlahnya di Edlink Palembang, sulit untuk disebut satu persatu. Yang jelas paling berkesan adalah kelasnya Karina Sari, Cia dan Evan, serta kelasnya para Peneliti Sembawa, rombongannya Mas Munir dan Mas Risal. Murid Edlink bervariasi ada yang kecil dan ada yang SMA ada pula yang dewasa. Di Edlink pula aku terlibat dalam acara Pameran Pendidikan mulai A – Z. Masa kerjaku di Edlink berlangsung di 2011, 2012, 2013. Dan akhirnya, setelah aku tak lagi bekerja untuk Edlink karena urusanku sudah selesai, aku memutuskan untuk mengibarkan bendera lembagaku sendiri yaitu Bumibahasa Online.

Bumibahasa – Sembawa Part 2

Awal September 2015, Bumibahasa meninggalkan Palembang dan mengerjakan Proyek IELTS Eyckman 150 jam di Bandung dengan Julie, Suci, Fizul, Agni Laili, Nofri, Naomi. Grup ini menamakan dirinya IELTS Rangers Bandung. Kelas ini berakhir per 7 Oktober 2015 setelah foto foto kenangan di Jonas tentunya.

Sejak 2015, 2016, dan 2017, nama Bumibahasa semakin dikenal luas di Jakarta. Banyak sekali murid murid berharga Bumibahasa baik yang online seperti Leli Khairani Adnan, Chinta Novelia dan puluhan bahkan ratusan murid lainnya yang tak pernah bertemu wajah dengan saya. Hingga yang pernah bertatap muka seperti Mbak Tata, Rio, mas Marwan, mas Jimmy, Yeni, mas Karmila, mba Rahayu, mas Kareef, Maitri, Aditya, Novia dan banyak lagi mitra mitra lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.

SEBASA POLRI

PDSI MATRAMAN

CENGKARENG

DJKN DKK

GITA AYA

WORKSHOP DEPOK

MEET UP BUMIBAHASA ONLINE

ITP KRAMAT ASEM

IELTS PREP BUMIBAHASA

Bumibahasa sekarang sudah di tahun ke 5. Makin hari makin banyak yang memanggilku dengan sebutan salah kaprah ‘Sir Wara.’ Kegiatan mengajar inipun tak terasa sudah kulakoni lebih 10 tahun lamanya. Tidak ada keraguan lagi sekarang bahwa memang mengajar adalah cerita dan nafas dalam hidupku. Suatu saat aku akan meninggal dunia, tetapi Tuhan, semoga saja engkau mencatat apa yang kuajarkan kepada muridku sebagai hal yang bermanfaat dan berguna. (Ku) Bukan orang alim, bukan orang saleh, bukan orang kaya, hanya mencoba dalam usia yang singkat ini untuk berguna bagi negara lewat murid muridku ini. Meski negaraku tak pernah tahu siapa aku. Jujur sangat sangat kecewa, kenapa aku tak pernah dianggap berkontribusi membangun negeri, hanya karena aku tak makan uang gaji langsung dari pengelola negara ini.

Aku sudah jenuh dengan IELTS dan TOEFL. Kalau sudah bisa mau apa lagi? Skema pengajaran onlineku sudah sip. Tatap muka pun begitu. Hanya perlu murid yang rajin dan bersungguh sungguh. Sepertinya aku perlu mainan baru. Butuh liburan. Jenuh pula dengan semua kegagalan yang tak lagi terhitung jumlahnya. Tapi biarlah, toh nasib orang tak ada yang tahu. Besok lusa mungkin ada jalannya. Mungkin juga tidak.

Bumibahasa. Suatu saat nama ini hanya akan tinggal kenangan.

THE END

Hadiah dari Leli

Hadiah dari Dr Nofri

Leave a Reply

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

Skip to toolbar