MIMPI MIMPI HUJAN

Jangan berhenti menggemakan
Suara hati dalam hujan
Tak usah menikam rasa
Dan sembunyikan nafasmu

Hanya dalam udara
Kita bisa bersuara

tetes air pertama

Pintu itu masih terbuka, di dalamnya terdapat ranjang berteman kasur kapuk tipis yang lusuh. Kipas angin plastik yang digantung di langit-langit berwarna hijau, mengeluarkan bunyi derik-derik aneh yang menjengkelkan. Dinding kamar yang dicat juga dengan warna hijau, sudah tak keruan bentuknya. Catnya sudah mengelupas. Dinding terlihat lembab. Poster antah berantah menumpang tempel bagai parasit yang memang merusak pandangan. Bahkan jika dipandang sebagai suatu hal yang berdiri sendiri, poster-poster itu memang kacangan, baik dari segi bahan, maupun gambar di dalamnya. Tim sepakbola kebanggaan dari piala dunia 2002 masih mejeng dengan gaya andalan sebelum bertanding, ada juga gambar grup musik yang memakai topeng-topeng seram, ditambah dengan kalender dari sebuah majalah pria, dengan model yang pastinya wanita, giginya sudah di spidol hitam, kepala sudah diberi tanduk, dan diberi titik hitam serupa puting. Kamar itu masih berbau pengap, asap rokok yang meninggalkan bau di dinding kamar bercampur dengan asap obat nyamuk. Abu obat nyamuk nya masih terlihat di bawah meja tulis. Di seantero kamar seluas tiga kali tiga meter itu, terdapat benda-benda penting seperti mini compo jadul pol yang sudah ompong, tapi nampaknya masih berfungsi, lalu seonggok laptop yang dari ujudnya bisa diperkirakan dari zaman batu, plus kulkas mini yang ditempeli huruf SCRABBLE membentuk kata-kata KALO DIBUKA JADI AC. Heh, idiot.

Pertanyaannya adalah: “Siapa yang tinggal di kamar ini?”

Kamar ini adalah kamar Furan. Who the fuck is Furan??

Furan Leida. Mahasiswa jorok yang entah kuliah di fakultas apa. Yang jelas dia pernah mengaku sebagai mahasiswa. Furan Leida selalu menjadi misteri dalam kehidupanku belakangan ini, karena semua keanehan yang ada pada dirinya. Kemunculannya yang misterius akhir-akhir ini sungguh di luar dugaan. Sebelumnya, kami memang pernah bertemu beberapa kali di acara musik yang diselenggarakan di lingkungan kampus. Pertemuan pertama, orang-orang bilang, memang memberikan kesan lebih. Waktu itu, aku dan bandku baru saja selesai manggung. Dia tiba-tiba mendekat dan langsung bicara dengan bangga,

“Woy, siape name? Gw Furan Leida, pencetus aliran ART metal! Tadi gw liat lu maen, kayanya lu bisa nih jadi murid gw!”

Pikirku dalam hati, wah sial juga nih monyong satu. Belagu banget jadi orang. Mimpi apa ya kemarin, ketemu mahluk kaya gini?

“Name gw Rahan.. asli datang dari dalam sungai Musi. Tujuan gw maen musik biar bisa slam dunk kaya’ Michael Jordan.” Mampus, pusing-pusing deh lu.

“wah Bro, memang lu soulmate gw banget. Password lu cocok. Lu sama gilanya kaya gw.”

Dan gw cuma bisa mangap lebar. Setelah pertemuan itu, di perjumpaan lain kita sering konyol-konyolan bareng, berbagi hal terindah yang juga kesamaan kita berdua, berbagi kebodohan. Sama-sama sok tahu, sok bisa, sok kritis, tapi ya intinya tetap saja bodoh. Tidak begitu lama kemudian, Furan curhat soal seorang gadis yang baru dikenalnya. Karena aku merasa mengenal Furan, aku kira ia akan bercerita tentang payudara, pantat, atau obrolan fisik wanita, seperti yang dibicarakan pria pada umumnya. Tapi Furan ternyata berbeda.

“Bro Han, gila, kemarin aku ketemu sama seorang gadis. Edan, man!”

“Siapa yang edan Bro Ran? Lu atau gadis itu?” aku masih tenang.

“Burung jantan burung tekukur. Bro Han, gw sama gadis itu akur. We’re just like snow that flows in the river. Ngalir aja gitu.”

Pantun kurapan sama bahasa Inggris nasi uduk kaya gini memang salah satu ciri Furan kalau dia lagi serius. Ciri lainnya adalah ngedipin mata berulang kali, persis kaya orang kelilipan.

“Gw sering membayangkan Bro Ran, adakah gadis di dunia ini yang akur dengan dirimu. Keagungan Tuhan memang nyata kiranya. Jika kaum atheis menginginkan bukti keberadaan-Nya, kasusmu ini bisa menjadi salah satu jawaban untuk mereka yang ingkar.” Masih tenang.

“Namanya Lia, Lia apa ya.. aduh kok gw bisa lupa sih?” Furan tampak menyesal.

“Bro Ran, kamu baru ketemu cewek edan, atau baru ke tempat kursus, hehe Lia Lia, banyak Lia bro, Li ayam, Li baso, Lianshi, sama satu lagi Liakulasi Dini.” Heheh, gemas aku jadinya.

“Mehek, enak saja, nama gadis itu bagus tauk. Kita bicara soal kedamaian kalbu, keluarga, kearifan alam, sampai ke ihwal para nabi.” Furan mulai tambah nggak jelas.

“Habislah sudah engkau Bro Ran, sekalian aja lu obrolin sambungan pipa septic tank istana presiden, sama kemungkinan naro webcam di wc presiden, kan lu jelmaan mario bros, mahasiswa jurusan teknik ledeng. Kacau teman, engkau kacau,” hasutku.

“Ini bukan kekacauan, wahai. Ini adalah misteri yang dialami semua anak manusia. Bro Han, tahukah engkau judul lagu Padi? Sesuatu yang tertunda … inilah Bro Han sesuatu yang tertunda pada diriku, the missing link in my life, the x-files, the crazy things called love. Ini cinta. CINTA.”

Furan menuntaskan koar-koarnya dengan tatap mata sendu yang tak kuketahui maknanya. Untuk beberapa detik, bumi berhenti berputar. Oh my goodness, detik jam pun terhenti! Semua percakapan lain yang ada di kantin kampus itu, jadi hilang suara. Senyap. Semua orang seolah jadi patung. Daun yang jatuh dari pohon, berhenti di udara. Kucing di atas meja sebelah, mendelik menatap Furan. Tulang ikan di mulutnya terjatuh, kucing itu ternganga. Sementara itu ribuan semut-semut yang berbaris acak-acakan di dinding kantin, dalam kecepatan Flash Gordon menyusun barisan kata-kata yang terlihat seperti: I CAN’T BELIEVE IT!

Aku sendiri tak percaya, baik dengan apa yang kudengar, maupun dengan apa yang kulihat. Tapi, mau bilang apa lagi. Seorang nenek, ibu dari yang punya kantin, atau setidaknya aku biasa mengiranya begitu, yang hanya berjarak 4 meter dari meja kami saat Furan mengucapkan kata sakral itu, tiba-tiba menjelma menjadi seorang gadis berusia dua puluhan. Ia kembali ke masa mudanya, keriput di seluruh tubuhnya menghilang. Nenek itu menjadi gadis kembali. What the fuck! Khawatir akan terjadi lebih banyak keanehan, aku segera menyeret Furan pergi dari meja itu.

Malam hari. Aku berpikir. Aku pernah mendengar legenda di tanah asalku yang mengisahkan tokoh bernama Si Pait Lidah. Konon, apa yang diucapkannya dapat menjadi kenyataan dalam waktu singkat. Terbersit kejadian tadi sore, mungkinkah Furan memiliki kemampuan seperti itu. Furan Leida. Pait Lidah. Namanya agak mirip, coincidence?

Itulah kisah tentang Furan Leida pada perjumpaan awal. Semua gerak-gerik dan keanehannya terasa begitu hangat, seperti seorang sahabat. Hanya saja, dia tidak ingin menjadi lazim seperti sahabat-sahabat lainnya. Lalu, hanya dua hari setelah peristiwa menggemparkan yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai kasus “NENEK KEMBALI GADIS TANPA SUSUK”, Furan menghilang tak berbekas. Saat itu, aku memang belum begitu kenal dengan Furan, tempat tinggal atau teman-temannya aku tidak tahu. Adapun nenek itu, setelah kembali menjadi sosok gadis, diwawancarai hampir oleh semua media massa. Karirnya melesat, iklan produk kecantikan, fashion show, dan jadi model video klip band indie. Kabar tersiar yang aku dengar, profesi tetapnya kini adalah model iklan rokok yang bisa mengembalikan usia muda.

Aku sebenarnya jengkel pada Furan Leida. Kejengkelan ini timbul dari rasa penasaran yang tak jua kunjung hilang untuk mengetahui hal-ihwal dirinya. Apa yang ia maksudkan waktu dia bilang, “ … kayanya lu bisa nih jadi murid gw”? Padahal, yang aku tahu dia tidak bisa maen drum. Waktu Furan lihat aku pertama, aku sedang di panggung gebuk-gebuk drum bawain lagu The Mirips, band bentukan anak sastra Jepang UNPADS dimana aku berstatus sebagai drummer tetap. Mestinya kalau dia anggap aku bisa jadi murid, ada kemungkinan bahwa dia juga master dalam main drum. Tapi, apa mau dikata, pernah sekali dia main ke studio The Mirips, bah, gebukan drumnya seperti orang sedang pukul beduk.

Belum lagi, semua keajaiban-keajaiban itu, seakan sudah menjadi suatu bawaan lahir. Misteri menyimpan suatu kebenaran, tetapi apakah aku benar-benar menginginkan mengetahui semua kenyataannya? Tak lama sejak saat itu, aku belajar melupakannya. Apakah aku akan bisa? Biar waktu yang menjawabnya.

The Mirips
Band yang membawakan musik rock ala Atlantis. Sound-sound laut seperti yang tergambarkan pada musik Keane dalam album Under the Iron Sea. Band ini memiliki penggemar yang semuanya selalu berbaju biru laut. Vokal The Mirips = Mustaqim. Suara emas mirip Judika. Gitaris The Mirips = Santo Tonatan. Gitaris mirip Eros. Drummer The Mirips = Rahan. Mirip Tyo. Bass The Mirips = Daniel Jum’at. Mirip bassist hoobastank

Kubur saja kisahku
Andai engkau mampu
Letakkan aku dalam jambangan
Lalu lempar ke laut

Namun dalam hati
Kita kan tetap terus berharap

tetes air kedua

79 hari kemudian

Gila! Hujan masih juga belum ingin berhenti. Entah banjir sudah setinggi apa di tempat-tempat yang sering kebanjiran. Bayangkan saja, dari jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam begini, air ngocor dari langit kaya’nya di atas sana ada yang lagi nguras kolam renang. Harus ada penjelasan atas semua ini. Bukan cuma petir-petir yang bunyinya bikin orang sakit jantung berguguran satu demi satu. Entah apa kerjanya pawang-pawang hujan, atau mereka semua terlanjur sibuk mencegah rumah mereka kebanjiran. Atau karena mereka tak punya bawang dan sapu lidi kering yang sangat mereka butuhkan pada saat darurat seperti ini.

Tapi tiba-tiba, tok tok tok, ada suara ketukan di pintu depan. Waduh! Siapa ya nekat-nekatnya datang saat hujan deras begini dan ketok pintu keras-keras. Yang pasti bukan anggota keluargaku, mereka semua lagi pada minggat ke negeri Kangguru. Ketika pintu kubuka, najis!, Furan Leida! … dan seorang gadis … cantik … bangeeeeeeeet. Tiba-tiba aku teringatkan kembali akan banyaknya ketidak adilan di dunia ini.

Mereka berdiri gemetar menahan dingin, seluruh pakaian mereka kuyup oleh hujan. Segera kusuruh mereka masuk dan kututup pintu.

“Rahan, kenalin ini Lia.” Itu kalimat pertama yang tercetus dari bibir Furan.

“Hai,” ucapku pelan saja.

“Maaf nih kita ganggu kaya’ begini …”

Belum habis ucapannya, aku tinggal mereka ke kamar untuk mengambil dua handuk bersih dan pakaian ganti. “Udah nanti-nanti aja ngeboongnya, sekarang lu berdua mandi dulu aja sana. Lia, itu kamar mandinya.” Ucapku seraya menunjuk pintu kamar mandi keluarga. “Bro Ran, lu mandi di kamar gw”

Mereka berdua saling berpandangan dan tanpa sepatah kata pun berlalu dari pandanganku. Aku ke dapur, membuatkan teh hangat untuk mereka, lalu menunggu di sofa tengah dengan sejuta rasa gelisah campur bingung. Dalam pikiranku, Furan pasti kembali membuat ulah, entah apapun itu. Tapi, sekarang ini aku tidak terlalu peduli dengan Furan, entah mengapa. Lia itu benar-benar anggun dan menarik perhatian. Kehujanan malah membuat dia tampak sexy. Apakah Furan dan Lia sudah …? Aku memaksa pikiranku terhenti, seakan tercekat oleh suatu rasa sakit di leherku. Bodoh.. ketidakrelaan apa ini? Aduuuuuh, sakiiiiiiit, bodoh bodoh bodoh, kenapa sakit? Ini benar-benar tidak masuk akal.

Setelah beberapa menit berlalu, yang pertama datang menemaniku adalah Lia. Ia sekarang mengenakan t-shirt biru muda yang biasa dibagikan pada fans The Mirips, celana jeans yang dikenakannya adalah kepunyaan adikku. Heran, bisa-bisanya ia nampak sangat pas dengan pakaian tersebut. Cantik sekali, anggun sekali.

“Boleh saya duduk di sini?” tanya Lia dengan nada suara yang sangat indah.

“Oh iya, iya, silakan, silakan,” aku tak bisa menyimpan kegugupanku.

Hening kembali. Lia mengikat rambut panjangnya sedemikian rupa hingga lehernya yang jenjang tidak tertutup apapun. Dan aku panas dingin. Mengapa Furan bodoh itu lama sekali?

Furan keluar dengan setelan baju koko yang jarang kupakai. Gila, ternyata anak misteri satu ini ganteng juga kalau pakaiannya benar. Furan Leida yang misterius duduk di sebelahku.

“Silakan diminum tehnya, mumpung masih hangat.”

Yaiks. Basa-basi seperti ini takkan berlaku jika di ruangan ini hanya ada aku dan Furan. Kuharap Furan tidak melihat kecanggunganku ini, ah, ia pasti tahu semua ini karena ada Lia, Lianya Furan yang begitu mempesona. Dan aku tahu Furan bukan orang bodoh.

“Begini Bro Han, ini Lia yang waktu itu kuceritakan. Masih ingat kan?”

Tentu saja aku ingat bodoh, engkau mengatakan CINTA dan dunia berhenti sesaat, nenek-nenek menjadi gadis, dan kau menghilang tanpa penjelasan, umpatku dalam hati.

“Lia, perkenalkan dirimu,” ucap Furan.

“Lia Nakamura,” ucapnya seraya mengulurkan tangan kanannya, “atau panggil saja Lia N.”

Aku menyambut uluran tangan Lia N dengan takut seperti hendak menyentuh kabel listrik tegangan tinggi. Shit! Tangannya begitu halus!
Dan aku bersalaman dengan Lia N, untuk pertama dan mungkin terakhir kali menyentuh dirinya.

“Bro Han, sebenarnya kami sedang ada dalam masalah yang cukup pelik.” Furan membuka cerita dengan gayanya yang khas. Matanya berkedip-kedip seperti kelilipan.

Ya aku sudah menduga hal itu, tuan penabur masalah. Lagi-lagi aku mengumpat dalam hati. Yang tambah membuatku kesal adalah, pilihan kata kami, pasti dipilih untuk menyingkirkan diriku.

“Lia N adalah gadis yang selalu ada dalam mimpiku,” ucapnya penuh arti. “Ia tidak bisa disamakan dengan gadis manapun. Aku mencintai dia dan dia mencintai aku.”

BAAAAAAAAGGG!! Aku bagai terkena hook petinju kelas berat yang akan segera membuatku tersungkur mencium lantai. Monyong! Untuk apa dia menceritakan hal ini? Apakah ia membaca gelagatku? Lia N juga tersenyum kagum ke arah Furan. Somebody just kill me now, please?

“Sayangnya, ia ada dalam dunia mimpi, sulit bagiku untuk memilikinya dalam kenyataan.” Ocehan Furan terus berkumandang. “ayahanda Lia N, yang terhormat tuan Genzo Nakamura, yang juga guru biolaku, tidak menghendaki aku berhubungan dengan putrinya.”

“Oh ya, kenapa bisa begitu?” tanyaku pelan sembari berusaha agar tidak terdengar sinis. Dalam hati aku melihat ada kesempatan. Jika tuan Genzo melihat diriku pastilah aku akan diterima menjadi menantunya, karena aku tidak urakan dan liar seperti Furan dalam kesehariannya. Ini juga menjawab, mengapa Furan tidak bisa main drum. Ya, karena ia adalah seorang pemain biola, tapi kurasa Furan juga bukan pemain biola yang handal.

“Yang kami dengar, Ayah telah memerintahkan polisi untuk menyelidiki keberadaan kami,” tambah Lia N.
Hmm. Jadi ini ulah si Furan, membawa kabur anak orang. Sekarang aku harus mengatur cara bagaimana meraih hati Lia N dan menjerat Furan ke genggaman polisi. Aku sendiri tak tahu, setan apa yang telah merasukiku. Aku begitu ingin mendapatkan Lia N. Dengan cara apapun!

“Bro Han”, tegur Furan, “Loe baek aja kan? Koq bengong gitu kaya ayam sakit?”

“Eh? Ga koq ga pa pa, Cuma agak ga enak badan aja dikit” aku pun berkelit. “Loe bilang apa tadi, polisi? Wah bro, kalo yang aneh-aneh gw ga ikut dah, takut ada apa-apa. Cuma kalo loe pada kepepet atau ada apa-apa yang sekiranya bisa gw bantu, kontak-kontak aja, mudah-mudahan gw bisa bantu.”

“Oh ya udah pada makan belon nih?” basa-basiku.

“Kita ga laper koq, loe nyantai aja, kita ga lama, ntar juga kalo hujan udah reda kita langsung cabut.” jawab Furan panjang.

(Kita. Kita. Kita. Beteee!)

“Eh gw tinggal ke kamar dulu ya, anggep aja rumah lo sendiri, gw ngantuk bgt abis nonton bola semalem.” Dan kuseret kakiku yang tak mau jauh – jauh dari Lia N ke kamar.

Pintu kamar kurapatkan, tapi masih kusisakan celah untuk mengintip pasangan jomplang itu. Beauty and The Freak. Mereka masih asik bersenda gurau di sofa. Perlahan kurebahkan badanku di kasur, berhenti mengawasi mereka. Sebel, sekalinya ada cewe yang maen ke rumah, cewe orang. Heran juga, padahal aku kan ga jelek, tajir, anak band pula, koq selama ini ga ada cewe yang bisa deket ama aku ya? Selama ini aku punya prinsip, cewe orang jangan direbut, karena bisa kualat. Tapi sekarang, yang terjadi malah aku mau ngerebut cewe si Furan. Kira-kira nanti kualatnya apa ya, kalo Lia jadi pacarku?

Dan bukannya mikirin kemungkinan kualat yang bisa terjadi, aku malah sibuk membayangkan apa yang Lia N bisa lakukan denganku setelah menjadi sepasang kekasih, dan dengan pikiran-pikiran yang kotor itulah aku jatuh terlelap.


Angin mendorong dorong awan
Memintanya turunkan hujan
Untuk bumi yang kian bermenung
Melarut dan melarung

Biarkan aku bersenggama
Dalam mimpi-mimpi hujan

Tetes air ketiga

Aku bangun dengan badan ringsek. Pegal! Terpaksa sedikit putar-putar poros pinggang ke kiri dan ke kanan. Tunggang tungging dengan jari menggapai jemari kaki mencoba melemaskan otot yang kaku. Lepas semua pegal, aku berjalan ke ruang tengah. Tidak ada tanda-tanda Furan dan Lia N. Hmm, kertas apa itu di atas meja?

Terdapat secarik kertas bertuliskan: “Aku harus pergi sekarang. Aku harus mengalahkan mimpiku. Cepatlah berkembang sahabatku. Kau ‘tertidur’ terlalu lama.”

Apa maksudnya ini?

–//–

Genzo Nakamura bukan seseorang yang bisa engkau beri senyum dengan tulus. Senyum siapapun kepada seorang Genzo Nakamura adalah senyum miris yang mencoba menepiskan rasa takut dari air wajah. Perawakannya yang besar, gempal, brewok yang liar serta alis dan sorot mata yang tajam, cukup untuk membuat gentar apapun yang berada di sekitarnya. Dan pagi itu di dunia mimpi. Genzo Nakamura sedang marah besar.

“SIALAAAAAAANNN!!!” “Jadi apa maunya si burung bangau Furan itu sebenarnya?” “Mau dia kubuat penyet seperti TELUR PUYUH, haaahh!!!”

Di depannya, sekitar dua puluh orang pengawal pribadi keluarga Nakamura duduk bersimpuh ketakutan. “Kingkong mau lepas, Kingkong mau lepas,” keluh mereka dalam hati.

“Hey Didi!, Polisi Rahasia macam apa kau ini? Kau dan anak buahmu sungguh tidak becus! Putriku diculik orang, lari ke dunia nyata, kau cuma bisa kasih laporan? Kenapa tidak kau tangkap!!!!!” amuk Genzo Nakamura.

–//–

Pria yang disebut bernama Didi adalah kepala dinas polisi rahasia dunia mimpi. Orangnya sangat ganteng, sangat mirip dengan vokalis Muse. Didi memiliki hubungan khusus dengan Lia N, dan tidak ada orang yang tahu tentang hal tersebut. Malam ketika Lia N melarikan diri bersama dengan Furan, Didi menghadang kedua pasangan tersebut di depan Pintu Penghubung.

“Lia N ….. apa maksud semua ini?” Didi menghalangi Pintu Penghubung. Ia memegang gitar bass listrik, tangannya bersiap mencabik dawai. Dan tanpa bermaksud melebih-lebihkan, bila Didi membetot bassnya, seluruh area di sekitar itu akan rata dengan tanah. Didi, polisi rahasia, raja bass dunia mimpi.

Furan dengan biolanya terhunus merasa terancam. Ia menyiapkan biolanya untuk kemungkinan terburuk. Mungkin ia akan terpaksa memainkan nada Baju Zirah level 2 untuk memperkecil kerusakan akibat serangan bass Didi. Namun, di sampingnya Lia N hanya tersenyum. Ia merentangkan lengan kirinya, mengisyaratkan agar Furan tidak menyentuh biola tersebut.

“Didi, kau ingat ceritaku dulu?” pelan Lia N menyapa si polisi rahasia.

“Aku …. Aku tidak pernah lupa ceritamu itu …” suara Didi tercekat, terdengar parau.

“Benarkah? Aku senang mendengarnya. Kau tentu tahu … , sudah lama aku merasa terkurung di sini Didi. Kita memang bahagia disini. Tapi ini dunia mimpi. Seindah-indahnya impian, engkau pun tahu, aku lebih suka memilih untuk menjalani kenyataan.”

“Tapi Lia N?! Kenyataan itu pahit. Kenyataan itu kejam. Kau akan menua, kau akan sakit, kau akan miskin, kau akan mati!!” erang Didi dalam mengeluarkan semua perasaannya.

Hening sejenak. Lia N menunggu Didi berhasil mengumpulkan nafasnya yang terengah-engah. Lalu ia menatap langit ke arah bintang-bintang, “Semua yang kau katakan itu benar. Tapi kau lupa menyebutkan satu hal. Kau akan bahagia. Rasa bahagia di dunia nyata, tidak bisa kita tukarkan dengan mimpi kita yang manapun. Walau hanya satu kali dalam seumur hidupku Di, aku ingin merasakan rasa bahagia di kenyataan. Meski harus melalui penuaan, meski harus merasakan kesakitan, meski harus didera kemiskinan, dan meskipun mati adalah sesuatu yang pasti.”

Didi tak kuasa menahan berat tubuhnya. Kedua lututnya telah rubuh ke tanah, ia tertunduk lesu. “Baiklah, aku tidak mengerti, tapi aku akan mencoba memahamimu” ucapnya pelan.

Lia N menggenggam tangan Furan dan menariknya seraya mereka berjalan ke Pintu Penghubung. “Maaf ya Di, aku mengerti bebanmu sangat berat. Sampai jumpa di kenyataan. Mungkin suatu saat kelak, tetap sebagai sahabat,” ucap Lia N.

“Jangan pernah kembali.” Didi bangun dari simpuhnya, dan berjalan tanpa menengok ke belakang.

–//–

“Siapkan alat-alat musik!! Latih The Nightmare Song!!” ucap Genzo Nakamura dengan suara yang lebih menyerupai raungan. “Didi! Turun ke dunia nyata! Bawa kembali putriku dan si pengkhianat Furan!”

The Nightmare Song, lagu tidak biasa yang akan memutuskan hubungan mereka yang datang dari kenyataan ke dunia mimpi, membuat mereka tak bisa kembali ke kenyataan, dan mengalami mimpi buruk selamanya di dunia mimpi. Kematian lebih baik daripada terkena imbas The Nightmare Song.

Keduapuluh pengawal pribadi dengan tergopoh-gopoh, segera berhamburan ke aula latihan untuk melatih The Nightmare Song. Kening Didi berkerut, ini sungguh di luar dugaannya. Ia tahu persis riwayat Furan akan tamat dengan lagu ini.

catatan penulis: Chapter 3 dari Mimpi-mimpi Hujan ini baru saya buat hari ini setelah terbengkalai sekian lama, terakhir proyek ini ane kerjakan 29 Mei 2007. Semoga bisa berkesan bagi pembaca SFTH sekalian. Salam hangat saya.


Bila kau dengar lamat-lamat
Suara yang memanggil airmata
Kau datangi walau luka
Kau hampiri walau sesak

Cinta tidak selalu tersenyum
Cinta itu memerdekakan

Tetes air keempat

Didi tak pernah turun ke dunia nyata sebelumnya. Dunia mimpi sudah sangat sempurna untuknya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dihadapi orang-orang di dunia nyata. Pintu Penghubung menurunkannya beberapa puluh meter di dekat rumah kosan Furan Leida. Saat itu sekitar pukul setengah enam sore. Gedung SMA 1 Cikuda tidak terlalu jauh dari tempat ia berdiri. Anak-anak dengan seragam bola warna-warni penuh bercak tanah becek tampak tersenyum riang saling bercerita riuh rendah seraya mereka berjalan melewati Didi.

“Apa yang mereka perbincangkan? Mereka tampak sangat bahagia” tanya Didi dalam hati. “Baju mereka kotor, tapi mereka tampak senang” membatin lagi ia untuk kedua kalinya. Ia berusaha keras untuk mengekang nuraninya bertanya. Namun sia-sia. “Bola apa itu? Sepertinya bola sepak biasa. Apa mereka tidak punya lapangan bola yang sempurna seperti di dunia mimpi? Bagaimana mereka bisa bahagia dengan sesuatu yang sangat jauh dari sempurna?” Ia tahu, ia tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Cep, kunaon ngalamun wae, geura uwih ka bumi, geus magrib yeuh” tegur seorang ibu yang rupanya memperhatikannya sedari tadi.

“Iya bu,” jawabnya pelan.

Didi melangkahkan kakinya menyusuri pinggiran jalan dekat gerbang UNPADS. Gitar bassnya terbungkus rapi dan tersandang di punggungnya. Ia benar-benar nampak seperti mahasiswa biasa. Melewati sedikit area persawahan yang tersisa di dekat kantor pos. Melewati kantor desa. Dan akhirnya ia tiba persis di depan gerbang UNPADS.

Ia iri dengan apa yang ia lihat saat itu. Hiruk pikuk orang muda bercampur dengan para pedagang dan penduduk setempat. Ada yang terlihat terburu-buru, ada pula yang santai. Ada yang berdandan penuh gaya, ada yang tampil sederhana. Ada yang percaya dengan buku-buku tebal, ada pula yang percaya dengan rambut gondrong, bahkan kribo. Ia kini menyadari bahwa dalam kenyataan semua orang berusaha keras demi apa yang mereka percaya. Semuanya begitu indah, begitu sempurna. Hari mulai gelap dan lampu-lampu pun telah dinyalakan. Saat itu memandang langit kenyataan jauh lebih indah dari perasaan apapun yang pernah ia banggakan. Didi baru saja tersadar, kenyataan itu menyenangkan.

1: “Nak, kenapa melamun saja. Cepat pulang ke rumah. Hari sudah magrib”



Mendewasakan hati
Menyembuhkan luka
Dan aku harus terus melaju
Karna namaku adalah waktu
Tak bisa kau pahami
Tak bisa kau ulangi

Tetes air kelima

Kita kembali ke kamar di tetes air pertama. Saat aku tengah menyambangi persembunyian Furan Leida. (Jiah, persembunyian, memangnya Osama pake persembunyian segala.)“Ada engga cep Furan teh?” ucap si ibu kos membuatku kaget.

“Ah kayanya masih keluar bu,” jawabku.

“Si aden saha?” tanya ibu itu lagi

“Saya temen kampusnya bu,” jawabku asal.

“Oh ya udah kalo gitu, ibu mah mau nerusin masak dulu yah, gapapa kan ditinggal?”. Eh si Ibu malah mau maen kabur aja.

“Eh bu, sebentar, emang si Furan kamarnya suka ga dikunci ya?”

“Anak-anak sini mah ga pake kunci-kuncian pintu den. Bebas, sebebas-bebasnya.”

“Lho, kok bisa? Emang ga pada takut maling bu?”

“Justru maling yang takut sama cep Furan, den.”

“Lho, kok bisa?” aku melongo.

“Ah, si aden mah itu mulu, ga pariatip pertanyaannya.”

“Iya udah, saya ubah deh, maksud saya, bagaimana bisa justru maling yang takut sama si Furan?”

“Nah gitu dong dari tadi, kan ibu ngejawabnya juga jadi enak”

(Ini si ibu lama-lama gw getok juga nih, nyebelin)
“Iya maaf atuh ibu”

“Maaf .. maaf aja bisanya..”

(jiaaah .. e buseet dia malah ngelunjak ini emak-emak satu)
“Ibu belum jawab pertanyaan saya lho” aku coba mengingatkan.

“Ya iyalah, malingnya takut. Si Furan kan ngelmu den.” Si ibu tertawa bangga.

“Ngelmu? Punya ilmu hitam maksudnya bu?” jelasku.

“Bukan, Den. Si Furan pernah cerita ke ibu, ilmu dia itu, ilmu menyusul orang.”

“Menyusul orang apa menyusul maling bu? Mana yang bener nih?”

“Maling orang apa bukan Aden oon?”

“Koq ibu ngatain saya oon sih?”

“Udah jawab aja dulu, maling itu orang apa bukan?”

“Blum tentu bu. Kucing juga bisa jadi maling, maling ikan asin”

“Ikan asin ngapain dikejer den. Dasar oon.”

“Lho yang bilang ngejer ikan asin siapa?”

“Kamu kan tadi?” si Ibu ngotot.

“Ya. Ya. Ya .. udah deh, aku emang oon. Coba sekarang ibu ceritain dulu tentang ilmu menyusul orang.” Aku nyerah.

“Hehehe, baru kena kerjain ngambek. Jadi ilmu menyusul orang itu, kalau dia melihat seseorang dia bisa langsung datangin orang tersebut, ke tempatnya langsung gitu den.”

“Hah, ibu ngibul ya?”

“E buset, ngibul, bahasa jaman jepang kena bom masi dipake. Terserah aden lah mau percaya apa enggak. Buat apa ibu ngibul. Teu aya mangpaatna. Ibu mau balik masak.” Dan si ibu pun langsung melengos kecentilan masuk dapur.

Aku kembali masuk ke kamar Furan. Mencoba mencari petunjuk yang mungkin tersembunyi. Selagi aku tengah melihat-lihat sekeliling kamar yang berantakan itu, mataku tertumbuk pada sebuah buku kumal bertuliskan, “Panduan Mengalahkan Mimpi. Cara Hidup di Dunia Nyata”. Dengan sigap, kubaca secara seksama isi dalam buku itu. Tetapi belum sempat beberapa menit. Ada suara bel, dan seseorang terdengar memanggil Furan. Segera kusembunyikan buku tersebut di dalam bajuku.

–//–

Aku tiba di rumah kosan Furan. Aku bisa merasakan gelombang energi Furan dan Lia N begitu kuatnya. Kuletakkan bass gitar yang kusandang. “Furan! Permisi Pak, Bu, ada Furan ngga ya?” Beberapa kali kuulangi meneriakkan kata-kata tersebut.“Nanaonan sih cep, meuni gandeng pisan magrib-magrib teh. Assalamuallaikum kan bisa,” seorang ibu cerewet mengomeliku.“Ini bu, saya nyari Furan.” Ucapku setengah menyesal.

“Iya itu saya mah juga udah tau.” Si ibu membalas.

“Lho, kok ibu bisa sudah tau? Ibu punya ilmu juga ya seperti Furan?” aku bingung.

“Hah? Ilmu? Lah yang tadi tereak-tereak ‘ada Furan ngga ya?’ bolak balik itu siapa? Nenek Lampir? Kamu kan yang tereak, ya jelas ibu tahu, ibu kan ga budek,” si ibu-ibu bawel nyerocos.

“Oohh … saya kira” bibirku membulat.

“Saya kira, saya kira, .. huhhhh .. kenapa ya yang pada nyariin si Furan hari ini bego-bego,”si ibu terus mengomel.

“Memangnya ada yang mencari Furan selain saya bu?”tanyaku ramah.

“Ada, tuh liat aja sendiri. Orangnya juga masih ngejogrok di kamarnya Furan. Sana temenin ngobrol. Ibu lagi masak makan malem, kamu berdua malah bikin ribet aja.” Dan si ibu pun langsung melengos kecentilan masuk dapur.

Aku pun masuk ke kamar Furan seperti yang ditunjuk si ibu, dan memang benar, ada seorang pria sebaya dengan Furan sedang duduk di sana. Wajahnya menunjukkan dia orang berada. Apa yang sedang ia lakukan disini?

“Permisi, boleh saya masuk?” ucapku

“Oh silakan, silakan. Lagi nyariin Furan ya mas?” tanya si pria necis.
“Iya, mas sendiri temannya Furan? Tau Furannya ada dimana sekarang?” tanyaku.

“Hah? Oh enggak. Saya cuma kenal-kenal gitu aja. Oh ya, namanya siapa mas?” si pria necis mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.

Aku terdiam sesaat. Apakah aku harus menjabat tangannya? Untuk apa sebenarnya jabat tangan seperti ini? Apakah ini ada gunanya? Kalau tidak ada gunanya, untuk apa manusia, dalam kenyataannya melakukan hal ini? Ah, masih banyak yang tidak kumengerti Lia N.

“Maaf, saya tidak biasa bersalaman. Namaku Didi” ucapku pada akhirnya.

–//–

“Maaf, saya tidak biasa bersalaman. Namaku Didi” ucap si pria ganteng.Apa sih sebenarnya yang dicari pria si pembawa bass ini? Hmm .. Jangan-jangan dia teman bandnya si Furan. Sombong banget lagaknya pake ga mau salaman segala. Kutarik kembali uluran tanganku dengan perasaan malu.“Didi ya. Saya Rahan. Anda teman bandnya Furan ya?” tanyaku langsung.

“Siapa? Saya? Haha … Jangan bercanda. Furan itu sama sekali bukan teman saya mas. Dia itu buronan!”

Aku tak mengerti.
“Maksudnya buronan bagaimana? Apa dia mencuri sesuatu?”

“Hampir tepat. Dia itu bukan mencuri. Tetapi menculik. Saya kemari untuk menangkapnya.”

Tunggu dulu. Tunggu dulu. Kalau tidak salah, waktu itu Lia N bilang ayahnya mengirim polisi. Jangan-jangan ini polisi yang dimaksud.
“Mas ini polisi ya? Tadi mas bilang mau menangkap?”kataku.

“Ya, saya ditugaskan oleh orang tua dari gadis yang diculik, Tuan Genzo Nakamura, untuk menangkap Furan Leida.”

Wah, ini sungguh suatu kebetulan. Apa yang bisa kulakukan disini? Ayo Rahan, putar otakmu.
“Eh … ini … eh .. apa namanya, saya kebetulan beberapa hari yang lalu melihat Furan dan seorang wanita,” beberku.

“Apa?!” Muka si polisi mendadak terlihat serius.
“Apa kau tahu dimana mereka sekarang? Cepat beritahu semua yang kau tahu tentang Furan”

“Eh .. tidak .. aku tidak tahu … beberapa waktu yang lalu mereka ke rumahku. Tapi sekarang aku tidak tahu dimana mereka.”

“Jangan main-main! Saat ini mereka berdua dalam bahaya besar.”si polisi terlihat tegang.

“Bahaya besar apa? Memangnya kenapa kalau mereka dalam bahaya besar?” ucapku.

“Wanita yang bernama Lia N itu adalah teman masa kecilku. Aku tidak perduli dengan Furan brengsek itu. Tetapi aku tidak bisa membiarkan Lia N berada dalam bahaya. Furan dapat dengan seenaknya keluar masuk dunia mimpi karena ia memiliki ilmu menyusul orang. Tetapi Lia N tidak. Sebelum bertemu dengan Furan ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk turun ke dunia nyata. Tetapi aku tahu persis bahaya yang mengancam mereka saat ini bukanlah main-main. The Nightmare Song!”

Oh jadi begitu ceritanya. Ada sesuatu yang tidak kumengerti, tetapi aku yakin jawabannya pasti ada di dalam buku yang tersembunyi di balik bajuku ini. Panduan Mengalahkan Mimpi: Cara Hidup di Dunia Nyata. Akan sangat berbahaya bila polisi ini menemukan buku ini. Aku harus segera pergi.

“Aduh mas Didi, saya minta maaf atas kelakuan Furan. Tapi saya saat ini ada urusan di tempat lain. Jadi saya mohon diri dulu ya,”ucapku.

“Oh ya baiklah, tetapi saya hanya meminta anda menjawab satu pertanyaan lagi. Apakah saat anda melihat Lia N dia mengenakan blazer hitam?”

Blazer hitam? Apa pula urusannya dengan blazer hitam? Tapi aku sangat ingat, Lia N waktu itu mengenakan T-shirt putih. Sebelum kuberi ia T-shirt biru. Aku pun menggeleng.
“Tidak, ia tidak mengenakan blazer hitam.”

Si polisi pun mengangguk, “Baiklah, saya juga harus mengurus sesuatu.”
Ia sandangkan kembali tas bass itu di punggungnya. Dan dalam sekejap mata ia menghilang! Bah!


Jika kekasih ada disisi
Awan pun rasanya mampu kugapai
Dengan kau
Segalanya mungkin

Walau ragu menggila
Walau tanya meraja

Tetes air keenam

Lia N dan Furan tengah berteduh di sebuah halte bis. Tidak ada orang lain selain mereka berdua disana. Hujan tengah mengguyur bumi dengan derasnya. Mereka tentu kedinginan. Angin bertiup kencang menghembuskan tetes-tetes air hujan sehingga walaupun mereka berteduh baju mereka tetap basah.“Apa yang harus kita lakukan Furan?”

“Kita sudah melakukan suatu kesalahan sayang”

“Maksudnya kamu?”

“Iya, semestinya kita tidak lari begitu saja malam itu. Bagaimanapun juga, beliau adalah ayahmu Lia N.”

“Entahlah Furan, aku merasa ayah tidak pernah cocok dan memahami keinginanku. Ia sering mengatakan, ini dunia mimpi, semua ada disini, apalagi yang kau inginkan?”

“Ayahmu orang yang berwibawa. Ya, memang benar, mungkin dia juga orang yang mudah marah, tetapi selama aku belajar biola dengannya aku merasa ia orang yang baik.”

“Ayah baik padamu, kurasa karena ia ingin aku bahagia. Tetapi bukan dengan aku yang berada di dunia nyata, melainkan kau yang ada di dunia mimpi selamanya Furan.”

“Itu … itu tidak mungkin …”

“Apa yang tidak mungkin Furan? Sekarang kau lihat bukan. Aku sayang sama kamu. Aku bersedia ikut sama kamu. Kemanapun Furan. Kemanapun kau berada. Apakah kau tidak mau melakukan hal yang sama untukku?”

“Aku ingin memperbaiki keadaan ini Lia N. Tapi jangan buat ini terdengar seperti suatu pengorbanan. Tidak. Ini sama sekali bukan itu. Kau ada disini, karena kau tahu, kenyataan seperti ini, sepahit apapun yang mungkin nantinya akan kita hadapi, jauh lebih baik dari pada hidup dalam dunia mimpi.”

“Ini menyedihkan. Kau membuat aku terdengar tidak tulus.”

“Lia N. Hentikan keluhmu. Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Maaf.”

Di sekitar mereka mobil-mobil berjalan dengan kaca tertutup. Hujan masih turun dengan derasnya. Dua jiwa yang bingung berada di tengah kota Bandung. Apa yang sepasang kekasih mungkin bayangkan ketika terkurung hujan?

Lia N merapatkan duduknya ke tubuh Furan. Ditariknya lengan kanan Furan agar memeluknya sementara ia merebahkan kepalanya di bahu lelaki itu. Nafas mereka menghembus dan siapa pun dapat melihatnya dalam udara dingin itu, kepulan tarikan nafas mereka yang hangat. Hangat. Semakin erat Furan memeluknya ia merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan di dunia mimpi.

“Ini nyaman,” ucap si gadis sembari tersenyum.

“Kamu suka?”

“Aku suka hujan Furan. Setiap hujan turun, seakan-akan semua mimpiku tak lagi kuperlukan. Aku tak pernah merasa hujan itu membatasi. Sebaliknya, ia membebaskanku dari kepenatan.”

“Aku sayang kamu Lia N”

“Terima kasih ya. Waktu pertama kali kita bertemu di toko buku itu, aku tahu ada sesuatu yang beda dengan kamu.”

“Ya, aku juga demikian. Kemilaumu sungguh berbeda dengan gadis-gadis yang lain yang pernah kujumpai.”

“Aku rasa ini memang takdir kita.”

“Takdir? Takdir tidak akan ada jika kau tidak memiliki kemampuan dan keberanian untuk menyusulku” Lia N tersenyum.

“Jadi, menurutmu aku pemberani?” Furan membalas.

“Haha, tidak ada orang yang pernah bicara dengan ayah dan meminta menjadi murid seperti yang kau lakukan sebelumnya.”

“Mengapa tidak ada?”

“Memangnya kau belum pernah lihat wajah ayahku?”

“Hahaha … durhaka nanti kamu, menghina ayah sendiri …”

“Haha .. ayah tidak akan marah padaku.”

Meski mereka tengah dirundung masalah yang pelik, kedua anak manusia tersebut masih dapat saling bersenda gurau dan menikmati hidup. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Bukankah cinta semestinya dapat membuat kita berpikir dengan tenang dalam menyelesaikan masalah?

“Lia N”

“Ya, sayang?”

“Kita harus kembali ke dunia mimpi untuk mengatakan langsung kepada ayahmu. Ini keputusanku. Kita tidak boleh berlaku seenaknya dalam hal ini. Bagaimanapun juga dia adalah ayahmu.”

“Ia tidak akan mengizinkan Furan” cemas Lia N.

“Kita bukan datang untuk meminta izin. Kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.”

“Baiklah, aku setuju. Ingatkan aku untuk mengambil blazer hitamku sebelum kita kembali.”

“Blazer hitam?”

“Ya, itu pemberian almarhum ibuku. Aku ingin membawanya dan mewariskannya pada anak kita suatu saat nanti”

“Baiklah sayang. Kita berangkat sekarang. Apa kau siap?” tanya Furan.

“Kemanapun. Asal denganmu. Aku selalu siap,” Lia N berkata seraya tersenyum manis.

“Dasar centil,” ejek Furan sambil tangannya mengacak-acak rambut Lia N.

Dan mereka pun lalu menghilang dari pandangan mata. Zap!


Keinginan tanpa upaya
Meluruskan niat
Adalah kesia-siaan
Berbentuk lingkaran

Tak ada arah yang dituju
Tak ada hasil yang bisa dinilai

Tetes air ke tujuh

Rahan menutup garasi dengan perlahan. Lalu ia melangkah menuju pintu depan rumahnya. Hari telah malam, dan pelataran rumahnya masih gelap. Ketika ia keluar sore tadi, lampu taman dan teras depan belum ia nyalakan. Ia merogoh kunci di saku celananya dan memasukkan anak kunci ke dalam tempatnya, pintu pun terbuka. Sambil melepaskan sepatu dengan cara kaki kanan menahan bagian bawah sepatu kiri ia menarik kaki kirinya, dan melakukan hal yang sama dengan kaki kanannya. Dengan satu sentuhan, dua tombol lampu pelataran ditekan sekaligus. Pelataran rumahnya kini benderang. Ia tutup kembali pintu tersebut dan menguncinya.

Jaket dilemparkannya ke sofa begitu saja, sementara ia melangkah ke ruang tengah dan meletakkan buku yang tadi ia ambil di kamar Furan di atas meja di depan televisi. Melangkah ke kulkas dan menuangkan jus apel ke gelas besar. Ia gemar sekali minum jus apel, mengikuti pepatah an apple a day keeps the doctor away. Ia memang malas untuk mengupas buah apel sedangkan bila harus memakan apel dan kulit-kulitnya ia malas untuk mencucinya terlebih dahulu, jadi ia pikir jus apel adalah semacam jalan pintas untuk tetap mengikuti pepatah hidup sehat tersebut.

Setelah meneguk minuman rutinnya, ia mencari minyak angin aromaterapi untuk dioleskan ke pelipisnya. Sekarang ia duduk dengan tenang di sofa ruang tengah dan mulai membaca buku Panduan Mengalahkan Mimpi: Cara Hidup di Dunia Nyata. Diam. Hening. Ia mempelajari poin-poin penting di dalamnya dengan seksama.

Lima belas menit berlalu, dan sekarang ia telah memahami banyak hal yang seolah menyibak kabut di sekitar kehadiran Furan Leida. Dan kini ia mengerti:
1. Impian adalah sesuatu yang diinginkan dengan sangat oleh tiap manusia. Manusia bekerja dengan keras dan giat tiap harinya, menjalani sisa umurnya dengan sungguh-sungguh, berharap agar suatu hari kelak dapat merengkuh impiannya. Ada manusia yang memiliki impian, namun ada pula yang hanya menjalani kehidupannya begitu saja tanpa sesuatu yang benar-benar ingin dicapai.

2. Dunia Mimpi adalah suatu dimensi lain, tempat yang ditawarkan oleh impian, kepada manusia-manusia yang mengejar impian, yang kalah oleh impiannya. Terobsesi dan tergila-gila sehingga keluar dari realita. Tuan Genzo Nakamura terobsesi untuk menjadi raja dalam dunia bermain biola. Setelah meninggalnya istri tercinta, ia menghabiskan waktunya hanya dengan bermain biola memainkan lagu-lagu kesayangan istrinya. Ia terjebak dalam impian bahwa dengan demikian istrinya di alam lain akan terhibur. Lia N menginginkan kehidupan tanpa rasa patah hati, ia adalah gadis dengan peri rasa yang sangat halus, sungguh ia mendambakan seorang kekasih yang tak akan mengecewakannya, namun manakala ia mengetahui bahwa hidup bisa sungguh memilukan, ia tak menolak ajakan ayahnya untuk hidup di dunia mimpi. Didi pernah menjalani kehidupan yang menarik sebagai seorang pemain bass ternama, tetapi ia sungguh ingin melupakan hal tersebut karena adanya beberapa insiden di dalamnya. Bassnya tidak melupakan impian tersebut. Bass kesayangannya itu menginginkan pemiliknya dan ia tetap berpadu sebagai satu kesatuan, dan bass dengan daya magis itu pula yang akhirnya menjebak pemiliknya ke dunia mimpi.

3. Kenyataan adalah sesuatu yang benar-benar terjadi dalam kehidupan manusia. Sesuatu yang tidak bisa dimengerti dengan akal sehat. Hal-hal yang sudah merupakan suatu hukum alam, dan hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Tak jarang manusia yang membenci kenyataan yang tak berpihak. Beberapa di antaranya adalah kematian, kemiskinan, patah hati, cacat tubuh dan hal-hal lain yang merupakan kenyataan sangatlah tidak menyenangkan. Kenyataan bisa diubah dengan upaya manusia, dimana upaya sendiri merupakan gabungan dari kemauan, perencanaan yang baik, dan kerja keras. Ini adalah cara untuk mengalahkan mimpi. Cara satu-satunya untuk merengkuh mimpi dan tidak terjebak di dalamnya.

4. Buku itu menjelaskan pula tentang potensi manusia yang mengatakan bahwa tiap-tiap manusia memiliki keunikan dan keistimewaan. Mengenali keunikan dan keistimewaan diri sendiri disertakan dengan upaya akan memberikan manusia alur terbaik yang lebih dari apa yang bisa dibayangkan. Sedikit sekali manusia yang menyadari potensi didalam dirinya. Bahwa masing-masing memiliki kemampuan untuk mengubah dunia.

Rahan termenung sejenak. Mencoba menemukan secarik kertas yang ditinggalkan Furan waktu itu. Dibacanya lagi, “Aku harus pergi sekarang. Aku harus mengalahkan mimpiku. Cepatlah berkembang sahabatku. Kau ‘tertidur’ terlalu lama”

Rahan sadar, ia masih tidak tahu apa yang menjadi impian Furan. Tetapi ia sekarang mengerti apa yang dimaksudnya dengan mengatakan cepatlah berkembang.

Rahan menyeringai dan tersenyum sinis. “Ya teman, kau memang benar, aku ‘tertidur’ terlalu lama. Aku tidak tahu bahwa hidup bisa semenarik ini.” Mereka saat ini pasti tengah berada di dunia mimpi. Hmm, apa ini bisa kulakukan? Manaku tau kalau belum kucoba. Ia pun mencoba membaca Baris Pembuka Dunia Mimpi. Seperti tertera di buku, bacakan impianmu dan Aku serahkan segala kenyataan untuk mimpi itu.

“Aku ingin Lia N menjadi milikku selamanya. Aku serahkan segala kenyataan untuk mimpi itu.”

Cahaya menyilaukan mata membesar dan terus membesar. Rahan sampai harus menyipitkan matanya. Ia amati dengan seksama dan kemudian tersenyum.

Ya! Ia berhasil! Itu adalah Pintu Penghubung!


Kau terluka oleh impian?
Hidup tak ramah denganmu?
Dan saat itu kau ikhlaskan
Sebagai suatu kekalahan

Saat beberapa diantara kita
Tak lagi berani untuk bermimpi

Tetes air ke delapan

Furan dan Lia N tiba di gerbang dunia mimpi. Mereka segera berlari dengan tergesa-gesa seraya mengawasi sekitar mereka. Beberapa orang lalu lalang mengacuhkan mereka.

“Lia N, kita ke rumahmu, kau ambil blazer hitam tersebut, dan aku akan menghadap ayahmu. Kita bertemu lagi di gerbang. Tunggu saja aku disana. Kau mengerti?” ucap Furan setengah berbisik.

“Baiklah. Apa kau yakin ayah tidak akan memperlakukanmu dengan buruk?” cemas Lia N.

“Ya. Itu satu kemungkinan. Kita hanya bisa berharap ayahmu tidak melakukan suatu hal yang ekstrim.”

Tiba-tiba terdengar satu teriakan kencang dari salah satu atap rumah.
“Hey! Berhenti kalian berdua!”

Furan dan Lia N pun segera menghentikan langkah mereka. Mereka tidak melihat jelas, namun sosok tersebut melompat dari ketinggian 4 meter dan mendarat dengan santainya di depan mereka. Itu adalah Didi!

Ia menatap dengan sorot mata tajam kepada Furan. Situasi kini berubah menjadi tegang. Orang-orang yang lalu lalang pun berhenti sejenak. Mereka tahu, ini adalah situasi tak biasa. Situasi dimana seorang kepala polisi rahasia berteriak dan melompat bukan sesuatu yang bisa dijumpai setiap hari.

“Tidak melakukan sesuatu yang ekstrim katamu?” Didi membuka percakapan. “Kau sungguh-sungguh naif! Orang seperti kau ini, yang percaya bahwa segalanya semuanya akan baik-baik saja, orang seperti kau ini membuatku muak! Kau pikir semuanya akan mudah dan berjalan sesuai dengan keinginanmu? Saat ini Tuan Genzo sedang memerintahkan persiapan The Nightmare Song! Kau mungkin tidak tahu apa artinya itu, seberapa bahayanya itu, seberapa mengerikannya itu. Karena kau tidak tahu apa-apa, tidak punya informasi, tidak punya keahlian, hanya mengandalkan niat baik. Itu saja tidak cukup! Setidaknya kumpulkan sedikit keberanian untuk mengakui bahwa kau ini naif!” suara Didi bergetar penuh kekesalan.

Furan tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang dikatakan Didi benar. Ia bahkan tidak tahu apa itu The Nightmare Song.

“Apa itu benar Di?” suara Lia N tercekat, jelas sulit untuk menerima kenyataan.

“Apa itu benar katamu? Kau melukaiku lagi Lia N. Kau tahu itu? Apa pernah sekalipun aku berbohong kepadamu selama ini? Sesulit apapun bagimu untuk menerima, tak berhak bagimu mengatakan itu. Dan … dan … kau pun tak sekalipun mendengarkan pintaku.“

“Apa maksudmu Di?

“Tidakkah kau dengar aku mengatakan ‘Jangan pernah kembali’ malam itu?”

“Aku … aku ..” Lia N tak bisa mengucapkan kalimatnya.

Didi membuka tas bass yang disandangnya. Dari dalam tas tersebut ia mengeluarkan sesuatu yang lalu diulurkannya kepada Lia N.

“Kau kembali untuk ini bukan?” ucapnya seraya tersenyum.

Dengan blazer hitam di tangannya. Lia N menatap penuh rasa tak percaya pada Didi.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Didi hanya tersenyum.

“Well, kita sebut saja, aku lebih mengenalmu daripada si pemuda naif ini,” ucapnya seraya menatap Furan dengan tatapan yang mengejek.

“Lia N. Itu blazer hitam dari ibumu? Aku pikir sebaiknya kau sekarang kembali ke dunia nyata. Biar aku segera menemui ayahmu, dan aku akan kembali secepat mungkin,” gegas Furan.

“The Nightmare Song. Bila kau terkena gelombangnya, kau tak akan bisa kembali ke dunia nyata Furan. Kau akan tetap selamanya disini dan terjebak dalam mimpi burukmu?”

Be that as it may, aku masih harus tetap mengucapkan perpisahan dan permohonan pada ayahmu. Ia berhak mendapatkannya.”

“Aku setuju. Jika kau ingin hidup dalam mimpi burukmu selamanya. Silahkan pergi temui Tuan Genzo. Aku lebih dari cukup untuk menggantikanmu di sisi Lia N. Dan Lia N, jika kau tidak mau mendengarkanku, sebaiknya kau dengar kata-kata si naif ini. Ingat, semua yang datang dari dunia nyata, hari ini, bila lagu itu dimainkan, akan terjebak dalam mimpi buruk selamanya,” tegas Didi.

“Aku mengerti Di. Furan, sampaikan maafku pada ayah, katakan padanya bahwa aku menunggunya kembali ke dunia nyata. Dan kau, jaga dirimu baik-baik.”

Setelah menganggukkan kepalanya, Furan kembali berlari melesat ke arah kediaman Tuan Genzo, sementara Lia N dan Didi berlari menuju Pintu Penghubung.

“Didi, aku akan kembali sekarang. Apakah kau ikut denganku?”

“Aku turun ke Dunia Nyata mencarimu beberapa waktu yang lalu. Tapi yang kutemui hanya temannya Furan. Namun, aku sekarang paham apa yang kau cari di kenyataan. Ya, aku akan kembali menjalani hari-hariku di dunia nyata.”

Lia N tersenyum dan mengacungkan kelingking kanannya.
“Tetap sebagai sahabat?” pinta Lia N.

“Tetap sebagai sahabat!” jawab Didi pasti seraya juga mengangkat kelingking kanannya. Dan mereka pun melompat menembus Pintu Penghubung.

Sementara itu, ditempat yang sama, tak selang beberapa menit kemudian. Pintu Penghubung membuka dan seseorang pemuda dengan pakaian necis masuk menginjakkan kakinya untuk pertama kali di dunia mimpi.

Rahan!


Meski kupijak tangga ini
Dan mendakinya
Bukan berarti
Aku meninggalkanmu

Mari pulang
Sahabatku

Tetes air kesembilan

Akhirnya sampai juga aku di tempat ini. Sekarang tinggal menangkap Furan dan menyerahkannya pada Tuan Genzo. Wah, wah, ternyata dunia mimpi lebih indah dari dugaanku. Ini seperti di Balamb Garden. Gedung-gedung mewah seperti di pusat perbelanjaan luar negeri, lampu-lampu taman yang gemerlapan, rimbun pepohonan serta udara yang segar menyejukkan jelas sangat berbeda dengan di dunia nyata. Tapi tunggu dulu. Apa itu? Apa aku tidak salah baca?

PET SHOP
ShiroNeko – World’s Laziest Cat!
Get it for FREE

ShiroNeko gratis?! Aku bisa punya ShiroNeko. Hebaaaaaaaaaatttt. Siapa yang butuh Lia N, eh salah, siapa yang butuh wanita jika aku bisa punya ShiroNeko … Tidak ada kata yang bisa menggambarkan bahagianya hatiku saat ini. Aku akan punya ShiroNeko! Aku segera berlari ke toko tersebut.

“Permisi, Shironekonya gratis ya?” ucapku cepat
“Ya, betul Tuan” jawab si pramuniaga.
“Jangan panggil tuan, panggil saja Rahan.”
“Baiklah, Rahan”
“Mana? Saya mau dong Shironekonya.”
“Ini Tuan.”

Percakapan formal singkat dan membosankan itu pun berakhir dengan aku melenggang keluar toko tersebut dengan menggendong ShiroNeko di pelukanku bagaikan bayi yang sangat gendut. Dunia mimpi jauh lebih hebat dari apa yang aku bayangkan. Aku yang menyukai kucing sejak kecil, kini memiliki kucing terbaik yang pernah ada di dunia. Aku dan kucing ini, kami akan menjalani hari-hari sempurna disini. Tenanglah Shiro .. Daddy’s here. Daddy won’t leave you ever.

Aku letakkan Shironeko di trotoar dan kami pun mulai bermain. Aku memerintahkan trik-trik yang dengan sempurna dilakukannya. Orang-orang yang lalu lalang tersenyum melihat kami. Terkadang beberapa di antara mereka berhenti sejenak dan bertepuk tangan melihat saat Shiro berhasil melakukan lompatan salto, atau bahkan trik yang lebih aneh seperti menarikan tarian mesir. Ah indahnya mimpi ini … Aku bisa merasakan semua menjadi sangat pelan, langkahku bagaikan memantul, tepuk tangan berubah menjadi nada yang menenangkan .. dan Shiro seperti … seperti ….. seperti kucing badut yang beraksi layaknya topeng monyet. Ini takkan berakhir. Ini yang kumau. Jangan. Jangan berakhir.

— // —

Di tempat lain Furan sedang meneguk air ludah. Ia tercekat di depan aula latihan. Tempat dimana ia biasa belajar biola dengan si raja biola yang seharusnya menjadi mertuanya itu, Genzo Nakamura. Dengan kepastian dan tekad bulat, ia pun bersiap melangkah maju dan mendorong pintu Aula.

Disana Tuan Genzo dan keduapuluh pengawalnya tampak berada di belakang alat-alat musik menyerupai orkestra musik dengan jumlah pemain yang lebih sedikit. Alat-alat musik tersebut tentunya bukan alat-alat biasa, karena Genzo Nakamura memiliki impian yang kompleks yaitu menciptakan alat-alat musik yang juga sekaligus berfungsi sebagai senjata penghancur. Ia pun menobatkan dirinya sendiri sebagai penguasa dunia mimpi dan membentuk kepolisian rahasia untuk melanggengkan kekuasaannya tersebut.

Tak ada yang berani bersuara. Para pengawal menatap Furan Leida dengan penuh kebencian. Apalagi boss mereka, Genzo Nakamura saat itu dengan perawakan sebesar sumo, memicingkan matanya melihat kehadiran Furan disana. Giginya ia rapatkan menahan amarah besar.

“Tuan Genzo yang saya hormati” Furan mulai membuka suara.

“Aku tidak tahu kau seorang pemberani, setelah terakhir kudengar kau melarikan putriku satu-satunya ke dunia nyata, kau masih berani kembali kesini.” Balas Genzo

“Saya datang untuk meminta maaf atas hal tersebut. Dan saya juga ingin menyampaikan pesan dari putri bapak agar bapak kembali ke dunia nyata.”

“Ini menarik sekali. Orang-orang muda memang punya kecenderungan bahwa mereka merasa lebih pintar dari orang-orang tua. Kalian menganggap bahwa orang-orang tua adalah orang-orang pahit yang hidupnya membosankan, stuck, dan tak lagi punya kemampuan mengubah dunia. Kalian selalu terinspirasi untuk menentang orang yang lebih tua, dengan bermacam alasan!” Genzo berbicara dengan cepat dan dengan suara yang lantang.

Furan masih berdiam diri, membaca keadaan.

“Apa kalian pikir, aku ini belum pernah hidup di dunia nyata? Apa kalian pikir, aku ini belum pernah jatuh cinta? Apa kalian pikir, aku menyia-nyiakan hidupku setelah kematian istriku dengan berada di tempat ini? Kau dan putriku adalah orang-orang muda. Kau belum melihat banyak hal! Kau baru melihat sedikit dari kekejaman dan kerusakan yang ada di dunia nyata! Aku tahu apa yang bisa terjadi dan oleh karena itu aku menginginkan kalian bahagia disini. Dan kau Furan Leida, orang yang memintaku untuk mengangkat murid, ternyata tak lebih dari pengkhianat dan pencuri yang menyesatkan putriku untuk berbalik dan meninggalkan aku.”

“Tuan Genzo, kami tidak merasa tinggal di dunia mimpi sebagai suatu kesalahan, dan kami juga tidak menyatakan hal-hal yang buruk tentang Tuan ingin berada disini. Kami memang orang muda. Semestinya kami masih mempunyai pilihan untuk jalan hidup kami. Hanya karena, ada orang yang pernah melewati semuanya, bukan berarti kami akan selalu mau memilih jalan yang paling aman. Anda semestinya lebih tahu, mengambil jalan seperti yang anda pilih, menghilangkan daya tarik hidup bagi kami,” balas Furan tak kalah tegasnya.

“Jadi kau mengatakan, bahwa orang tua tidak lagi memiliki pilihan?” Genzo Nakamura menahan amarahnya yang sudah hampir meledak.

“Sama sekali tidak, saya hanya menyatakan orang tua tidak iri dengan orang muda yang masih punya banyak pilihan, tetapi mereka tidak punya cukup keberanian untuk melihat putra-putri mereka melakukan kesalahan!” Furan meraung

“Aku … punya pilihan, dan kau orang muda rentan melakukan kesalahan, seperti yang kau lakukan saat ini! Pengawal! Mainkan The Nightmare Song! Basmi pemuda ini dengan mimpi buruknya!” titah Genzo Nakamura.

“Oh, shit!”

Cuma itu yang keluar dari mulut Furan dan ia pun membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya ke luar dari aula tersebut dan terus berlari dengan satu tujuan Pintu Penghubung.

Di belakangnya, nada-nada maut yang sedang dimainkan dari Aula beterbangan mengejarnya dalam bentuk awan gelap yang bergerak sangat cepat. Orang-orang yang melihat awan gelap tersebut langsung menyingkir dan berlindung. Merasakan mimpi buruk selamanya adalah lebih buruk dari kematian bagi siapapun.

“Siaaaaaaaalllll!!!” Furan terus berlari sekencang-kencangnya. Beberapa ratus meter ke depan, ia melihat sosok Rahan yang dikenalnya tengah bermain dengan kucing. Meski jarak di antara mereka masih sangat jauh Furan berteriak sambil masih terus berlari. Rahan berdiri di jalurnya, satu garis jalan menuju pintu penghubung.

“Bro Rahaaaaaann!!! Apa yang kau lakukan disini?! Cepat menyingkir dari sini kembali ke dunia nyata sekarang juga!”

“Hah, Bro Ran? Kenapa kau berlari Bro Ran? Adaaa apaa memangnya? Aku sedang bermain dengan kuciinggg impiankuuu..” Rahan menjawab dengan mulut monyong karena huruf u yang banyak.

Furan pun berlari melewati Rahan dan dengan cepat ia menyergap kerah baju Rahan dan menyeretnya, masih sambil berlari sangat kencang. Rahan tercekik karena ditarik sambil lari di kerah bajunya. Ia terseret dengan kaki menggelosor tanah. Kucing itu menatap Rahan yang menjauh dengan tatapan sedih.

“Apa.. uhk.. apa… uhk an ini? Kucingkuu? Uhk,” Rahan mencoba bersuara tapi ia masih dalam keadaan tercekik.

“Lupakan kucingmu, lihat itu awan gelap yang mengejar di belakang kita, itu awan mimpi buruk selamanya.”

“Hah, Shiro? Uhk… Maafkan .. uhk? Maaf ..” Rahan meneteskan air mata.

Layaknya dikejar wedus gembel, Furan terus menarik Rahan sekuat tenaga hingga akhirnya mereka tiba di depan Pintu Penghubung.

“Loncaaaaaaatttt!!!!”teriak Furan

“Shirooooooo!!” isak Rahan


Pernahkah kau bermimpi … hidup di hari tua ..
Mengenang masa indah .. yang tertoreh saat muda

Senyummu menggelora mengingat tentang semua
Cita cinta dan air mata

EPILOG

Dua tahun setelah kejadian saat itu, mereka kembali berkumpul di suatu resto Fast Food terkenal di Simpang Dago, Bandung.

Furan Leida, Lia Nakamura, Didi, dan Rahan. Furan dengan kesibukannya sebagai atlet Futsal, Lia N menikmati hari-harinya sebagai pengajar bahasa Jepang di sebuah lembaga pendidikan di dekat BadakSinga. Didi praktis bekerja sebagai Desainer untuk majalah-majalah terbitan nasional. Sementara Rahan, ia masih sibuk meniti karir band Indie dengan The Mirips.

Sore itu, suasana belum terlalu ramai, dan mereka sedang menikmati santapan mereka masing-masing. Beberapa menit setelahnya.

“Aku punya pengakuan,” ucap Rahan sok serius.

Ketiga temannya melihat ke arahnya dengan aneh, kening berkerut, kepala miring sedikit.

“Dulu, aku ke dunia mimpi karena aku suka Lia N” ucap Rahan pelan. Ia menunggu reaksi teman-temannya.

Lia N menunduk, Furan menggenggam tangan kekasihnya, sementara Didi menepuk-nepuk punggung Rahan pelan. Teman-temannya lalu saling tatap setelah beberapa saat dan tertawa terbahak-bahak. Riuh rendah mereka tertawa, sampai-sampai Didi jatuh dari kursinya, Furan memegang perutnya, dan Lia N bahkan tertawa sampai keluar setetes air mata.

“Eh, eh, eh .. Apanya yang lucu nih? Aku serius.” ujar Rahan bingung.

Didi menjawab, “Iya, kamu suka sama Lia N, tapi kamu lebih nafsu sama kucing daripada sama cewek.”

Dan ketiga rekannya pun kembali terbahak-bahak.

“Sumpah, gw ga kebayang, kalo lo di dunia mimpi selamanya, lo apain aja tu kucing!” ucap Furan sambil terus ngakak.

“Iya Rahan, thanks ya udah suka sama gw, tapi aku tersinggung nih, cinta lo buat kucing lebih besar daripada buat gw” Lia N masih cekikikan sambil mengusap pinggiran matanya.

“Ah. Kucing lo semua!” ucap Rahan sambil ikut tertawa.

Keempat sahabat itu tampak bahagia sekali dalam reuni mereka. Mereka sangat menikmati senja itu dan masa muda mereka. Masa yang hanya ada satu kali.

Dan dari speaker resto tersebut mengalunlah sebuah lagu kesayangan mereka.

Furan, “Waah .. lagunya ini lagi euy, pas banget”

Lia N, “Iya ya”

Didi, “Oasis kan?”

Rahan, “Yoi. Stand by me.

“Hahahahaha, Kuciiiiiiingggggg looo!” keempat sahabat pun kembali tertawa.

THE END

STAND BY ME – OASIS
Made a meal and threw it up on Sunday
I’ve gotta lot of things to learn
Said, “I would and I’ll be leaving one day
Before my heart starts to burn”

So what’s the matter with you?
Sing me something new,
Don’t you know
The cold and wind and rain don’t know
They only seem to come and go away

Times are hard when things have got no meaning
I’ve found a key upon the floor
Maybe you and I will not believe in the things we find Behind the door
So what’s the matter with you?

Sing me something new,
Don’t you know
The cold and wind and rain don’t know
They only seem to come and go away

Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, nobody knows, the way it’s gonna be

If you’re leavin will you take me with you?
I’m tired of talkin on my phone
There is one thing I can never give you
My heart will never be your home

Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, nobody knows, the way it’s gonna be

SHIRO NEKO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar